Kisah Kami

Awalnya masyarakat setempat menyangkanya sebagai “kandang ayam” ternyata sebuah pesantren kecil yang bangunannya terbuat dari bambu. Diakah cikal bakal pesantren Ulul Ilmi yang kini berdiri kokoh di Cipayung. Sebuah pesantren untuk anak yatim dan keluarga miskin.   Bagi Pimpinan Pesantren Ulul Ilmi, KH. Drs. Achmad Wajihudin, MA, apa yang terjadi pada pesantren Ulul Ilmi sekarang semata-mata karena pertolongan Allah swt. Bagaimana tidak? Pesantren ini membebaskan biaya kepada seluruh santrinya  Namanya juga pesantern anak-anak yatim dan kaum dhuafa, tentu mereka orang-orang yang tidak berpunya. Sejarah berdirinya pesantren Ulul Ilmi ini bermula saat masih sebagai mahasiswa, jika anak muda yang bernama Wajihuddin itu sangat tersentuh dengan realitas anak-anak yatim dan kaum dhuafa yang ditampung oleh orang-orang kristen dan beberapa panti non-muslim lainnya, “padahal mereka orang-orang muslim. Mereka dibiayai pendidikannya hingga dijamin kehidupannya,” ujar Wajihuddin muda kala itu. Namun Wajihuddin tak memiliki dana yang cukup. Dengan uang seadanya, sekitar tahun 2000 beliau akhinya membangun 2 gubuk dari bamboo ukuran 6 x 4 meter untuk tempat itnggal santri putra dan putri. Hal ini sekaligus menyimbolkan “tanda jadi “ berdirinya pesantren Ulul Ilmi. Langkah yang dilakukan Wajihuddin kala ituternyata tidak sedikit mengundang cibiran dan cemoohan dari warga sekitar, tetapi beliau hanya membalasnya dengan senyuman. Hingga akhirnya, tanah pesantrenpun semakin luas, banyak warga yang mewakafkan tanahnya, dan bangunan dari gubuk itu terganti dengan bangunan permanent dan kokoh. Kini, pesantren Ulul Ilmi pun semakin lebih baik , dan KH. Achmad Wajihuddin semakin yakin akan Kebesaran Allah swt. bagi hambanya yang berserah diri.